Banner
wikipedia Indonesia
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Seberapa Pentingkah Peran Website Sekolah bagi Anda?
Sangat Penting
Penting
Tidak Penting
Ragu-Ragu
Tidak Tahu
  Lihat
Statistik

Total Hits : 360821
Pengunjung : 105398
Hari ini : 77
Hits hari ini : 250
Member Online : 53
IP : 54.161.3.96
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

masrurinwd    smart_aal
Agenda
24 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

PROSES TURUNNYA AL QUR

Tanggal : 20-11-2013 09:09, dibaca 1382 kali.

A.  PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Rosululloh Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Rosululloh Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.

Al-Qur’an yang ada dihadapan kita hingga saat ini tentunya tidak akan pernah terlepas dari sejarahnya yang begitu melekat. Diawali dari turunnya ayat-ayat Al-Qur’an dalam bahasa Rosululloh SAW dari kalangan bangsa Arab, kaum muslimin dari golongan sahabat, tabi’in, ulama dan qurra’ yang amat memperhatikan dengan serius. Kemudian sejarah penulisan Al-Qur’an sejak zaman Rasulullah SAW, kemudian masa Abu Bakar Ash- Shidiq r.a dan masa Utsman Bin Affan. Ada dua hal yang  membuat Al-Qur’an terjaga ketika itu. Pertama, hafalan yang tersimpan rapi dan terjaga dalam dada para sahabat. Kedua, tertulisnya Al-Qur’an seluruhnya tetapi dalam susunan yang belum teratur, masih terpisah ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terdiri dari kulit, tulang, pelepah kurma, batu tipis dan kayu.

 Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT kepada Rosululloh Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, turunnya tidak dengan sekali turun, tetapi berangsur-angsur dari waktu kewaktu. Bagi Allah Subhanahu Wata'ala sesungguhnya sangat mudah untuk menurunkan Al-Quran dalam waktu sekejap, bahkan boleh jadi jauh lebih mudah daripada menciptakan alam semesata. Bagi Alloh menurunkan Al-Quran dalam waktu sepersekian detik adalah hal yang sama sekali bukan mustahil, cukuplah bagi Alloh berkata "Kun, Fayakun!" atau, "Jadi, maka jadilah!". Tetapi tidak demikian, tetapi Al-Qur'an diturunkan melalui proses secara bertahap.

B.  PERMASALAHAN

Dari latar belakang diatas, dimunculkan permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah proses turunnya Al-Qur’an ?
  2. Bagaimanakah pemanfaatan metode turunnya Al-Qur’an dalam bidang pendidikan dan pengajaran ?

C.   PEMBAHASAN

      1.    Proses Turunnya Al-Qur’an

          a) Masa Turunnya Al-Quran

              Pada ayat-ayat Al-Qur’an dibawah ini, dapat kita temukan penjelasan tentang masa diturunkannya Al-Qur’an.

              1. Surat Al-Baqoroh : 185

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqoroh : 185)

Dalam tafsir Jalalain dijelaskan : Hari-hari tersebut adalah (bulan Ramadan yang padanya diturunkan Alquran) yakni dari Lohmahfuz ke langit dunia di malam lailatulkadar (sebagai petunjuk) menjadi 'hal', artinya yang menunjukkan dari kesesatan (bagi manusia dan penjelasan-penjelasan) artinya keterangan-keterangan yang nyata (mengenai petunjuk itu) yang menuntun pada hukum-hukum yang hak (dan) sebagai (pemisah) yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil. (Maka barang siapa yang menyaksikan) artinya hadir (di antara kamu di bulan itu, hendaklah ia berpuasa dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain) sebagaimana telah diterangkan terdahulu. Diulang-ulang agar jangan timbul dugaan adanya nasakh dengan diumumkannya 'menyaksikan bulan' (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesempitan) sehingga oleh karenanya kamu diperbolehkan-Nya berbuka di waktu sakit dan ketika dalam perjalanan. Karena yang demikian itu merupakan `illat atau motif pula bagi perintah berpuasa, maka diathafkan padanya. (Dan hendaklah kamu cukupkan) ada yang membaca 'tukmiluu' dan ada pula 'tukammiluu' (bilangan) maksudnya bilangan puasa Ramadan (hendaklah kamu besarkan Allah) sewaktu menunaikannya (atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu) maksudnya petunjuk tentang pokok-pokok agamamu (dan supaya kamu bersyukur) kepada Allah Taala atas semua itu.

2. Surat Ad-Dukhan ayat 3

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad-Dukhan : 3)

 Dalam tafsir Jalalain dijelaskan : (Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati) yaitu Lailatulkadar, atau malam pertengahan bulan Syakban. Pada malam tersebut diturunkanlah Alquran dari Umul Kitab atau Lohmahfuz yaitu dari langit yang ketujuh hingga ke langit dunia (sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan) yang memperingatkan manusia dengan Alquran.

3. Surat Al-Qodar ayat 1

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. (QS.Al-Qodar 97:1)

Dalam tafsir Jalalain dijelaskan : (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya) yaitu menurunkan Alquran seluruhnya secara sekali turun dari lohmahfuz hingga ke langit yang paling bawah (pada malam kemuliaan) yaitu malam Lailatulkadar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran.

Tidak ada kontradiksi antara ketiga ayat di atas, maka malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar di bulan Ramadhan. Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Al-Qur’an turun pada bulan ramadhan yang di dalamnya terdapat malam yang penuh dengan berkah dan malam yang mulia dari seribu bulan yakni lailatul qodar. Tapi secara dhohir ayat tersebut bertentangan dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah SAW, karena Al-Qur’an turun kepada beliau selama 23 tahun. Dalam hal ini para ulama’ mempunyai beberapa antara lain :

  1. Pendapat yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan dianut oleh Jumhur Ulama, bahwa yang dimaksud dengan nuzulul Qur’an (turunnya al-Qur’an) dalam ketiga ayat di atas adalah turunnya secara utuh/sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia sebagai bentuk pengagungan terhadap al-Qur’an di hadapan para Malaikat-Nya. Kemudian diturunkan (secara bertahap) kepada Rasulullah, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam waktu dua puluh tiga tahun sesuai dengan kejadian dan peristiwa-persitiwa yang terjadi semenjak diutusnya Rosululloh SAW sampai beliau wafat. Beliau tinggal di Mekah setelah diutus menjadi nabi selama tiga belas tahun dan di Madinah setelah hijrah adalah sepuluh tahun. Sebagian ulama memperkirakan bahwa waktu turunnya al-Qur’an adalah dua puluh tahun, dan yang lain mengatakan dua puluh lima tahun, hal ini dikarenakan perbedaan mereka dalam masalah lama tinggalnya beliau shallallahu 'alaihi wasallam setelah menjadi nabi- di Mekah, apakah tiga belas tahun, atau sepuluh tahun, atau lima belas tahun, mereka sepakat bahwa tinggalnya Rosululloh SAW di Madinah setelah hijrah adalah sepuluh tahun dan yang tepat adalah pendapat yang pertama (13 tahun).

Pendapat ini adalah pendapat yang berdasar pada riwayat-riwayat yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma dalam beberapa riwayat di antaranya :

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an diturunkan sekaligus (secara utuh) ke langit dunia pada malam lailatul qadar, kemudian setelah itu diturunkan (secara bertahap) selama dua puluh tahun. Lalu beliau membaca: ”Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-Furqon: 33) 

” Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra’: 106). (HR. Imam al-Hakim dan al-Baihaqi rahimahumallah

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:

”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus (menjadi nabi) selama empat puluh tahun, maka beliau tinggal di Mekah selama tiga belas tahun dan diturunkan kepada beliau wahyu, kemudian diperintah untuk hijrah (dan tinggal di Madinah) sepuluh tahun dan beliau meninggal sedangkan umur beliau enam puluh tiga tahun.” (HR. Imam al-Bukhari)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an dipisahkan dari Adz-Dzikr, lalu dia diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia, lalu Jibril 'alaihissalam memulai menurunkannya (secara bertahap) kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam. ”(HR. Imam al-Hakim rahimahullah)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia secara gradual. Lalu, AllahSubhanahu wa Ta'ala menurunkannya kepada Rasul-Nya bagian demi bagian.” (HR. Imam al-Hakim dan al-Baihaqi rahimahumallah)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadar pada bulan Ramadhan sekaligus, lalu diturunkan secara bertahap.”(HR. Imam ath-Thabrani rahimahullah)

2. Pendapat As-Syabi, bahwa maksud dari tiga ayat tersebut adalah awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada malam lailatulqadar yang terdapat di bulan ramadhan. Ayat-ayat berikutnya turun secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa atau kejadian-kejadian selama kurang lebih 23 tahun. Dengan demikian maka Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus kepada Rasulullah.

Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qura’an surat Al-Isro ayat 106 :

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. (QS. Al-Isro : 106)

 Orang-orang musyrik menentang turunnya ayat Al-Qur’an secara berangsur-angsur, karena kitab-kitab samawi sebelumnya diturunkan sekaligus sebagai jawaban atas penentangan mereka. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Furqon ayat 32-33 :

“Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Dan tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”. (QS. Al-Furqan : 32-33)

 Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati Rosululloh Muhammad SAW menjadi kuat dan tetap. Dan setiap kali mereka datang kepada Rosululloh Muhammad SAW membawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu yang benar dan nyata.

Keutamaan bulan ramadhan dan lailatulqadar dapat terlihat dengan jelas apabila maksud ayat diatas merupakan nuzulul Qur’an kepada Rosululloh, sesuai dengan firman Alloh dalam surat Al-Anfal ayat 41 :

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Anfal : 41)

 

Yang dimaksud dengan apa ialah: ayat-ayat Al-Quran, Malaikat dan pertolongan.

Furqaan ialah: pemisah antara yang hak dan yang batil. yang dimaksud dengan hari Al Furqaan ialah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jum'at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al Quranul Karim pada malam 17 Ramadhan. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan, dan hal ini diperkuat pula dengan apa yang diyakini oleh para ulama muhaqiq (peneliti) dalam bidang hadits tentang permulaan turunnya wahyu, dari ‘Aisyah ra :

“Permulaan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mimpi yang benar di dalam tidur. Beliau tidaklah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti terangnya cahaya subuh. Kemudian beliau senang menyendiri. Beliau sering menyendiri di Gua Hira dan beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam, kemudian kembali kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah dan mengambil bekal seperti itu pula, maka datanglah kepada beliau kebenaran ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)  

Maka sesungguhnya para Muhaqiq dari kalangan pensyarah (yang menjelaskan makna) hadits menyatakan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam diangkat menjadi nabi dengan mendapatkan mimpi yang benar pada bulan lahirnya yaitu Rabi’ul Awwal dalam masa enam bulan. Kemudian diwahyukan kepada beliau dalam kondisi sadar pada bulan Ramadhan dengan firmanNya : اقرأ”, dengan demikian nash-nash tersebut menunjukkan pada satu makna.

3. Pendapat berikutnya :  Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada dua puluh tiga kali malam kemuliaan/lailatul qadar (atau dua puluh atau dua puluh lima lailatul qadar, sesuai dengan perbedaan pendapat yang terdahulu tentang lamanya Rasul tinggal di Makkah), yang pada setiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar itu ada yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk diturunkan setiap tahunnya, dan jumlah untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sepanjang tahun. Madzhab ini adalah hasil ijtihad sebagian mufassir (ahli tafsir), dan tidak ada dalil naqli yang dipakai dalam madzhab ini.

 Adapun pendapat kedua yang diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dengan dalil-dalil yang shahih dan dapat diterima, tidaklah bertentangan dengan madzhab pertama yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma;

Pendapat yang kuat ialah; Al-Qur’an Al-Karim itu diturunkan dua kali:

 Pertama: Diturunkan sekligus pada lauhul mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.

Kedua: Diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.

 Imam Al-Qurthubi rahimahullah menukil riwayat dari Muqatil bin Hayyan rahimahullah tentang adanya kesepakatan pandangan tentang turunnya Al-Qur’an sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma menafikan adanya kontradiksi antara ketiga ayat di atas berkenaan dengan turunnya al-Qur’an dan fakta kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Al-Qur’an itu memang turun selama dua puluh tiga tahun di bulan-bulan selain Ramadhan.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma, dia pernah ditanya ‘Athiyyah bin bin al-Aswad, katanya, “Dalam hatiku ada keraguan tentang firman Allah, (yang artinya): ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada (malam) lailatul qadr’ Padahal al-Qur’an itu ada yang diturunkan pada bulan Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Shafar dan Rabi’ul Awwal.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma menjawab:”Al-Qur’an itu diturunkan pada lailatul qadr sekaligus, kemudian diturunkan secara berangsur, sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan di sepanjang bulan dan hari.” (hadits diriwayatkan Ibnu Mardawih dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat)

Para ulama mengisyaratkan, hikmah dari hal itu adalah untuk menyatakan kebesaran al-Qur’an dan kemuliaan orang yang diturunkan kepadanya al-Qur’an (Rosululloh SAW). Imam as-Suyuthi rahimahullah berkata:”Dikatakan bahwa rahasia diturunkannya al-Qur’an sekaligus ke langit dunia adalah untuk memuliakan orang yang kepadanya al-Qur’an diturunkan; memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir demi kemuliaan ummat manusia. Kitab itu kini telah di ambang pintu dan akan segera diturunkan kepada mereka. Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghendaki disampaikan al-Qur’an kepada mereka secara bertahap sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, tentulah ia diturunkan ke bumi sekaligus seperti halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala membedakannya dari kitab-kitab yang sebelumnya, maka dijadikannyalah dua ciri tersendiri, diturunkan secara sekaligus, kemudian diturunkan secara bertahap, untuk menghormati orang yang menerimanya.”

As-Sakhawi rahimahullah mengatakan dalam Jamal Al-Qurra’:”Turunnya Al-Qur’an ke langit dunia sekligus itu menunjukkan suatu penghormatan kepada Bani Adam (manusia) di hadapan para Malaikat, serta pemberitahuan kepada mereka akan perhatian Allah Subhanahu wa Ta'ala dan rahmat-Nya kepada manusia. Dalam pengertian inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan tujuh puluh ribu Malaikat untuk mengawal surat al-An’am, (sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Abu Ubaid dalam Fadha’il Al-Qur’an), dan dalam pengertian ini pula Allah memerintahkan Jibril 'alaihissalam agar mendiktekannya kepada para Malaikat pencatat yang mulia, menuliskan dan membacakannya kepadanya”

Pendapat sebagian ulama ada juga yang berpandangan bahwa Al-Qur’an turun pertama-tama secara berangsur-angsur ke Lauhul Mahfuzh berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Waqi’ah ayat 77-78 : 

”Tidak lain ia adalah al-Qur’an yang mulia, di Lauhul Mahfuzh”(QS. Al-Waqi’ah : 77-78)

 

Kemudian setelah itu ia turun dari Lauhul Mahfuzh turun serentak seperti itu ke Baitul Izzah. Selanjutnya, ia turun sedikit demi sedikit. Dengan demikian, ini berarti turun dalam tiga tahap.

Hal ini tidak bertentangan dengan sebelumnya, bagaimanapun juga al-Qur’an Al-Karim sudah ada di Lauhul Mahfuzh meliputi semua urusan ghaib yang sudah ditetapkan di dalamnya. Al-Qur’an turun sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di lagit dunia –sebagaimana riwayat Ibnu Abbas- pada Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah di bulan Ramadhan, sebab tidak ada yang menghalangi turunnya al-Qur’an langsung sekaligus, dimulai dari turunnya pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara berangsur-angsur dalam satu malam. Dengan demikian, tidak ada pertentangan di antara berbagai pendapat ini jika dikecualikan madzhab yang ketiga.

 

b)   Al-Qur’an Turun berangsur-angsur

Firman Alloh dalam surat As-Syuara’ ayat 192-195 : 

192. dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,

193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),

194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,

195. dengan bahasa Arab yang jelas.(QS. As-Syuara : 192-195)

Dalam ayat diatas lafadz tanziil menunjukan turunnya berangsur-angsur, berbeda dengan lafadz inzaal yang artinya turun sekaligus. Para ahli bahasa membedakan pengertian dua lafadz tersebut, tanziil ialah sesuatu yang diturunkan secara terpisah-pisah, sedangkan inzaal sifatnya lebih umum.

Firman Alloh dalam surat Al-Isro ayat 106 :

106. dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra : 106)

Al-Qur’an telah turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun diantaranya ialah 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Berdeba dengan kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan sekaligus.

Dalam surat Al-Furqan ayat 32-33 ditunjukan bahwa kitab-kitab samawai terdahulu turun sekaligus dan pendapat tersebut disepakati oleh para ulama. Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur semata-mata untuk menetapkannya dalam hati kaum mukminin serta mengundang kekaguman orang-orang kafir terhadap turunnya Al-Qur’an ini. Alloh telah menjelaskan tentang turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur bertujuan demi tetapnya Al-Qur’an di dada mereka. Jadi hikmah yang terkandung dalam turunnya Al-Qur’an ini ialah penetapan hati Rasululloh, rattalnaahu tartiilaa, maksudnya kami tentukan ayat demi ayat, sebagian dengan sebagian yang lain saling berhubungan. Turunnya Al-Qur’an secara terpisah-pisah menurut kejadian-kejadiannya lebih mudah melekat ke dalam hati, sehingga tetaplah Al-Qur’an dalam dada mereka.

c)    Hikmah Turunnya AL-Qur’an Berangsur-angsur

  1. Pembaharuan wahyu menguatkan hati Rosululloh SAW.

Rosululloh telah menyebarkan dakwahnya kepada seluruh umat manusia, diantara ada yang mengingkari, menentang dan menghinanya, tetapi Rosululloh tetap teguh memegang kebenaran yang disampaikannya.

Alloh menerangkan tentang keadaan nabi sebelumnya yang disakiti dan dustakan, tetapi para nabi sebelumnya bersabar sehingga pertolongan Alloh datang kepada mereka sehingga mereka terhibur disela-sela hinaan dan tentangan dari kaumnya. Alloh menyuruh Rosul bersabar atas cobaan itu dengan menenangkan hatinya dengan jaminan yang diberikan Alloh dari segala rencana buruk para pendustanya. Setiap bertambah derita yang dirasakan Rosululloh akibat pendustaan kaumnya, dan masuklah unsur kesedihan yang umum pada manusia, dan pada saat itu turunlah Al-Qur’an sebagai penguat hatinya dan hiburan atas cobaan yang diderita. Rosululloh menjadi yakin dan tidak bersedih atas apa yang dideritanya, tidak putus asa dan dapat membandingkan dengan kisah-kisah rosul sebelumnya. Hikmah ini merupakan jawaban atas penentangan orang-orang yang mempertanyakan mengapa Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur.

 2. Memudahkan pemahaman dan hafalannya.

Al-Qur’an telah diturunkan pada kaum ummiyah, yang tidak dapat membaca dan menulis, ingatannya hanyalah menghafal dan tidak memiliki satu buku maupun catatan sekalipun. Tidak mungkin bagi seorang yang ummi untuk dapat menghafal, memahami dan memelihara pengertian Al-Qur’an secara keseluruhan dalam satu masa. Turunnya Al-Qur’an secara terpisah merupakan metode yang tepat dalam menghafal, memahami dan memelihara pengertiannya. Setiap satu ayat atau beberapa ayat turun, para sahabat menghafal dan mempelajari maknanya dan mereka menegakkan hukum-hukum yang terdapat didalamnya.     

 3. Mukjizat bagi Rosul.

Orang-orang musyrik membanggakan syair dan pidato pembesar-pembesar mereka dengan ketinggian sastara dan bahasanya. Mereka bertanya, dimana kemukjizatanya Al-Qur’an dan memang buatan Alloh, bukan buatan manusia ? Mereka juga ingin menguji kerosulan Muhammad SAW dengan mempertanyakan persoalan-persoalan yang mereka ingkari seperti pengetahuan tentang hari kiamat, tentang penyegeraan adzab, atau tentang kebenaran kitab Alloh yang memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Dalam surat Al-Furqon ayat 33 :  “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”. Maksudnya : Setiap kali mereka datang kepada Rosululloh SAW Muhammad s.a.w membawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu yang benar dan nyata.

Setelah mereka takjub Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur maka Alloh menerangkan kebenarannya itu, dan menantang orang-orang kafir untuk membuat satu ayat saja semisal Al-Qur’an dan ternyata mereka tidak mampu. Karena ketidakmampuanya itu, mereka lantas mendustakan dengan mengatakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus saja, maka turun ayat atas penentangan mereka (QS. Al-Furqon : 32-33), atau tidak akan datang ayat Alloh sesuai permintaan mereka tetapi diturunkan ayat sesuai dengan peristiwa yang tepat dan maknanya lebih jelas terhadap mukjizat kitab Al-Qur’an. 

4. Kesesuaian situasi kondisi dan periodisasi hukum.

Keadaan umat pada masa itu memiliki adat istiadat yang bercampur baur dengan kerusakan dan kemaksiatan dan mereka tidak mau berubah dari keaadaan itu. Islam dan Al-Qur’an datang sebagai sesuatu yang baru tidak secara langsung memberikan perintah dan larangan kepada manusia tetapi mengajak mereka untuk belajar hikmah yang terkandung didalamnya dan memberikan penyeimbang terhadapa keadaan mereka. Al-Qur’an memberikan penjelasan hukum, menasehatkan dan meletakan dasar-dasar hukum sesuai keadaan mereka.

 5. Bukti yang kuat bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Alloh yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rosululloh SAW, dalam masa 23 tahun, diturunkan ayat demi ayat dalam masa yang terpisah, manusia membacanya surat demi surat dan mereka menemukan hukum-hukum yang bijak, penuh dengan kejelian, memiliki makna yang berkaitan, memiliki ushlub yang indah, memiliki susunan surat dan ayat yang berkaitan, seperti perjanjian seseorang dengan Tuhannya yang belum pernah dibuat oleh seorang pun. Dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 1 : “Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu”.  Diperinci atas beberapa macam, ada yang mengenai ketauhidan, hukum, kisah, akhlak, ilmu pengetahuan, janji dan peringatan dan lain-lain.

Jika Al-Qur’an ciptaan manusia atau perkataan seseorang yang diungkapkan dalam setiap peristiwa dan kejadian, maka jelas akan terdapat keraguan dan persengketaan didalamnya. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 82 : “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

 2.    Pemanfaatan metode turunnya Al-Qur’an dalam bidang pendidikan dan pengajaran

Asas dalam proses pengajaran antara lain penyesuaian tingkat pemahaman siswa dan pengembangan kemampuan berfikir, kejiwaan dan jasmani. Asas tersebut dibentuk dan diarahkan untuk kesempurnaan dan kebaikan bagi peserta didik. Metode turunnya Al-Qur’an yang secara berangsur-angsur merupakan contoh metode pendidikan kepada ummat islam menurut fitrah dan kemampuan mereka masing-masing.

Manusia terpengaruh keadaan lingkungan tempat tinggal, pendidikan yang diterima dan letak geografis tempat tinggalnya. Metode turunnya Al-Qur’an dapat ditiru oleh seorang pendidik agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai tujuan dan sasaran. Metode semacam ini menawarkan kebenaran tanpa paksaan, ini menunjukan bahwa manusia yang mendapat fitrah sejak lahir dapat mempertimbangkan kebenaran yang diterimanya, hal ini akan membuat peserta didik mendapatkan pengetahuan yang dapat diyakini kebenarannya dan pada saat peserta didik melaksanakan atau mempraktekan pengetahuan tersebut, tidak ragu sedikitpun. Metode  bertahap yang digunakan dalam Al-Qur’an sangat membantu sekali terhadap daya ingat dan daya hafal seseorang bahkan sangat membantu dalam praktek.  

Turunnya ayat-ayat riba dan harta waris didahului dengan ayat-ayat umum tentang undang-undang harta benda, begitu pula ayat-ayat pembunuhan didahului oleh ayat-ayat yang menjelaskan tentang pemisahan Islam dan syirik secara sempurna. Ini adalah metodologi Al-Qur’an terhadap tahapan-tahapan pendidikan manusia yang disesuaikan dengan tingkat keimanan dan pemikiran immat islam saat itu, mulai dari titik kecil ke titik besar, dari satu kekuatan kepada kekuatan yang lebih besar.

Metode pengajaran yang tidak memperhatikan tingkat kemampuan anak didik akan bermasalah bagi pendidik dan peserta didik. Metode turunnya Al-Qur’an merupakan suatu percontohan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang dapat dimanfaatkan sebagai teori penyampaian dalam pengajaran dikelas.

 D. PENUTUP

  1. Simpulan
    1. Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari lauhul mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada bulan ramadhan di malam laitulqodar.
    2. Al-Qur’an diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan peristiwa dan kondisi ummat saat itu
    3. Hikmah diturunkannya Al-Quran secara berangusur-angsur yaitu pembaharuan wahyu untuk menguatkan hati Rosululloh SAW,  memudahkan pemahaman dan hafalannya, mukjizat bagi Rosululloh SAW, kesesuaian situasi kondisi dan periodisasi hukum dan bukti yang kuat bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Alloh yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji
    4. Metode diturunkannya Al-Qur’an dapat dijadikan contoh dalam pendidikan dan pengajaran untuk memberi pemahaman dan pengetahuan tentang materi pelajaran kepada peserta didik
  2. Saran
  1. Untuk menjawab tantangan jaman dan menjawab keraguan orang-orang yang belum paham terhadap proses dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an, sebagai ummat Islam kita wajib memahami proses dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an melalui Ulumul Qur’an.
  2. Ummat Islam, khususnya pendidik, harus mencoba metode diturunkannya Al-Qur’an untuk memberi pemahaman dan pengetahuan tentang materi pelajaran kepada peserta didik.

 

Daftar Pustaka

 

Abdul Wahid Ramli, Drs. Ulumul Qur’an. Jakarta. Raja Grafindo Persada : 2002

 

Ali Ash-Shaabuuniy, Muhammad. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung. Pustaka Setia :  2008

 

Al-Qatthan, Manna. Pengantar Ilmu Studi Al-Qur’an. Jakarta. Pustaka Al-Kautsar :  2006

 

Anwar, Rosehan. Ulumul Qur’an. Bandung. CV Pustaka Setia : 2000.

 

Hamid, Shalahudin. H.M. Study Ulumul Qur’an, Jakarta, PT. Intimedia Ciptanusantara : 2002

 

Marzuki, Kamaluddin, Ulumul Qur’an, Bandung. Pustaka Setia : 1992

 

Shihab, M. Quraisy, Mu’jizat al-Qur’an, Bandung. Mizan : 1997

 

Shihab, M. Quraisy. Membumikan Al-Qur’an Cetakan VII, Bandung. Mizan : 1994

 

Shihab, M. Quraisy. Tafsir Al-Misbah Volume 13, Jakarta. Lentera Hati : 2007

 

Tim Terjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI. Tanjung Mas Inti, 1992

 

___________________, Al-Qur’an Dan Tafsirnya Jilid 9, Jakarta. Depag RI : 2009

 



Pengirim : Masruri
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : JohnLoape -  [grriinmu@gmail.com]  Tanggal : 22/06/2015
Hi. And bye! John
<a href="http://googoozuza.com.br/">googoozuza</a>
Hi. And bye! John
Hi. And bye! John
<a href="http://googoozuza.com.br/">googoozuza</a>

Pengirim : reerseIcenny -  [kneeksgex@hotmail.com]  Tanggal : 16/04/2014
In the end, all the benefits started off because of the good finance marketplace to produce safe practices regarding money are already managed from the likes and dislikes in the tiny entrepreneur. In truth, they are the actual shareholders which usually require security of money most of all. Quite a few market observers imagine the is now over regulated therefore, complete additional harm as compared to beneficial. <a href=http://www.marketwatch.com/story/afscme-district-council-33-president-pete-matthews-to-hold-press-conference-to-respond-to-mayor-nutters-lawsuit-at-pa-supreme-court-seeking-to-impose-contract-2013-02-06>prentice capital management website</a> In the event you would like reputable institutional services to assist you to consider cost of your economic success, appear simply no more: Economic Hawaiian presents on-line exchanging, expenditure financial, along with a range of products and services with the many figuring out experts. Thoroughly managed by the Nationwide Investments along with Alternate Percentage, you'll be able to relax quick knowing that your current investment decision is able hands and wrists. Economic Off-shore will assist you to find the right Influx obtain, to be able to target attaining the very high of this investment possible. Do not delay - e mail us right now to learn more about how exactly Economic Hawaiian be capable of turning the expense ambitions into a reality!


   Kembali ke Atas