Banner
wikipedia Indonesia
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Seberapa Pentingkah Peran Website Sekolah bagi Anda?
Sangat Penting
Penting
Tidak Penting
Ragu-Ragu
Tidak Tahu
  Lihat
Statistik

Total Hits : 359299
Pengunjung : 104919
Hari ini : 13
Hits hari ini : 48
Member Online : 53
IP : 54.162.166.214
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

masrurinwd    smart_aal
Agenda
18 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Dilema Fullday School Bagi Madrasah

Tanggal : 12-08-2017 06:07, dibaca 89 kali.

Oleh: Agus Sukowo

Beberapa waktu yang lalu sebuah ormas Islam berdemo menentang kebijakan fullday school yang dicanangkan oleh menteri pendidikan. Keputusan Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendi tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2017. Inti dari peraturan ini mengatur jam pembelajaran dalam satu minggu 40 jam pelajaran dan penambahan jam istirahat sebesar 0,5 jam yang dikemas menjadi lima hari. 
Kemunculan Permendikbud ini, terus menuai pro dan kontra, bahkan Presiden RI, Joko Widodo menyarankan untuk ditinjau dan dikaji lagi. Namun, fakta dilapangan kebijakan ini tetap jalan terus terutama untuk jenjang SMA. 
Jauh sebelum kebijakan lima hari kerja, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebelumnya telah mengeluarkan Pergub Jateng No. 51 Tahun 2016 tentang pengaturan lima hari jam kerja yang dihitung sebanyak 37 jam 30 menit yang diberlakukan untuk Rumah Sakit Daerah (milik Provinsi), Pelayanan publik, kesehatan dan pendidikan. Pengaturannya mulai jam 07.00 dan pulang kerja 15.30 atau 16.00. Bagi dunia pendidikan tahun pertama diuji cobakan untuk sekolah-sekolah negeri yang ditunjuk sebagai percontohan.
Penguatan permendikbud sendiri memantapkan bagi sekolah-sekaloh yang telah mempraktekannya mendapat dukungan dari sekolah yang belum menjalankannya.
Bagi madrasah sendiri yang bernaung dibawah Kementerian Agama, kebijakan ini belum bisa dijalankan. Alasannya sederhana karena struktur kurikulum MA jauh lebih banyak dalam satu minggunya, yaitu 47 jam tatap muka sedang di SMA/SMK hanya memuat 42 -44 jam. Banyaknya jam dikarenakan muatan materi agama jauh lebih banyak. Bila di SMA/SMK hanya dua jam sedangkan di madrsah muatan agama meliputi Alquran Hadits, Fiqih, Akidah Akhlak, SKI dan masih juga ditambah Bahasa Arab.
Dengan komposisi demikian Kegiatan Belajar Mengajar(KBM) berakhir pukul 14.30 dilanjutkan kegiatan ektrakurikuler yang bisa berkahir sampai pukul 17.00. Dengan kondisi demikian tentu menjadi permasalahan tersediri. Tentu saja dalam implementasinya madrsah akan sangat kesulitan menerapkan lima hari kerja seperti yang dianjurkan oleh gubernur maupun oleh Menteri Pendidikan.

Dilema

Bila dikaji lebih mendalam sesungguhnya madrasah telah melaksanakan kegiatan belajar dengan sistem fullday school, yang dijalankan secara total selama enam hari kerja. Jadi, bila kebijakan ini diberlakukan juga pada madrsah tanpa melihat struktur kurikulum, akan menyulitkan madrsah sendiri.
Memang penerapan lima hari masuk sekolah akan sinkron dengan lima hari kerja, sehingga anak dan orang tua akan menjalankan quality time bersama orang tua pada hari Sabtu dan Minggu. Mereka bisa berakhir pekan bersama untuk menjalin kedekatan dan keakraban keluarga.
Lain lagi bagi pedagang, petani atau wiraswata kebijakan ini seperti buah simalakama karena intensitas bertemu antara anak dan orang tua tergantung situasi dan kondisi.
Bagi orang tua yang menyekolahkan anaknya di madrsah sekaligus mondok, tentu akan mengalami kesulitan karena harus ada materi-materi yang bisa diterima setelah jam belajar dimadrsah usai. Bayangkan saja kalau siswa setelah menjalankan ekskul dimadrsah sampai dengan pukul 17.00, maka pelajaran Diniyah akan mengalami kendala yang serius. Terutama penyerapan materi agama akan menglami kendala karena fisik dan pikiran siswa sudah terkuras.
Saya sendiri sebagai pengajar yang pernah mepraktekan fullday school pertama kali di daerah saya, pengajaran dimulai pukul 07.00 berakhir hingga pukul 15.30 selama enam hari. Saat ini dengan hanya lima hari masuk tentu jadwal akan sangat padat.
Bagi guru sendiri disisi lain akan mengalami kendala dalam menyusun perangkat pembelajaran, laporan dan kegiatan mengajar. Memang belum ada penelitian yang sahih mengenai lima hari masuk di sekolah, namun yang tidak bisa dipungkiri padatnya kegiatan bisa jadi akan menjadikan KBM tidak berjalan dengan maksimal.
Pelajar sebagai subjek yang terpapar langsung dari kebijakan ini tidak ada tawaran untuk menolak. Kalau kita mau menengok sedikit quantum learning tentang belajar yang menyenangkan hubungannya dengan kemampuan daya fokus otak hanya sanggup pada kisaran 30-60 menit selebihnya tidak masimal.
Menurut hemat saya, fullday school memiliki sisi-sisi positif juga membawa kekurangannya. Bagi yang mampu menjalankan lima hari kerja untuk bisa diterapkan, namun bagi madrasah khususnya yang ada muatan diniyah(keagamaan) tidak harus dipaksa untik menjalankannya. Pada jangka panjang perlu dilakukan penelitian untuk mengukur sejauh mana efektifitasnya. Tidak ada gading yang tak retak. Pendidikan di Indonesia sedang berproses mencari bentuk yang terbaik, harapan kami sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan sudah saatnya pendidikan di negeri ini tidak terlalu sering dilakukan eksperimen-eksperiman yang menimbulkan friksi. Sudah hampir 72 tahun kita merdeka saya yakin format pendidikan yang ideal sudah harus ditemukan bentuk yang ideal, sehingga tidak memakan korban terutama peserta didik. Majulah Pendidikan Indonesia.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas